
Esei Refleksi Kemerdekaan,
Fahd Djibran
Pemimpin Redaksi Juxtapose
Kau hitam, keriting, tinggi, Ambon, bermata cokelat, tak pernah memilih terlahir dari rahim yang mana, di mana, dari etnis apa. Lalu emosi, kesadaran, nalar, dan ra[h]samu tumbuh merambati pengalaman dan pengajaran yang menghampirimu. Bila lantas kau memilih untuk beragama Katolik lalu Buddha. Itu pilihanmu. Itu hakmu.
Aku cokelat, ikal, tambun, Sunda, bermata hitam. Juga tak pernah memilih terlahir dari rahim ibuku, di Cianjur, dan dari keluarga dengan keyakinan Islam yang teguh. Maka emosi, kesadaran, nalar, dan ra[h]saku tumbuh merambati pengalaman dan pengajaran Islam yang menghampiriku. Bila lantas aku terbentuk dan terbangun menjadi seorang Muslim. Itu pilihanku. Itu keyakinanku. Dan semua orang berhak memiliki keyakinannya masing-masing, bukan?
Kau tak bisa memaksaku untuk menyerupaimu, aku pun begitu. Kita memiliki pilihan masing-masing, maka kita pun memiliki keputusan masing-masing. Kau boleh mengajakku, merayuku, atau menggodaku, tapi kau tak berhak memaksaku. Aku juga begitu. Dan aku tak [akan] pernah memaksamu untuk menjadi sepertiku. Kau adalah dirimu sendiri. Bagiku diriku sendiri, bagimu dirimu sendiri. Tak ada paksaan dalam menjadi seseorang, bukan?
Bila kita berbeda dalam beberapa hal, haruskah kita menyoalnya? Berdebat atasnya? Bertarung atasnya? Memang, ada terlalu banyak perbedaan antara kau dan aku: kau Ambon aku Sunda. Kau Buddhis aku Muslim. Kau adalah dirimu dan aku adalah diriku. Tapi haruskah kita memaksa untuk menjadi serupa?
Andai dunia ini serupa. Dunia tentu kesepian. Stagnan. Tak ada persilangan. Tak ada warna yang lain. Tak ada suara yang lain. Semua suara adalah koor yang datar. Semua warna satu saja. Tak ada perbedaan. Jadi tentu saja: tak ada harmoni. Monoton. Membosankan. Bukan?
Tak ada yang mungkin untuk diserupakan sepenuhnya. Sebab keberagaman adalah salah satu wajah Tuhan yang menjadi manifestasi kesempurnaannya. Bila segalanya serupa, tentu meragukan bila kita harus menilai Tuhan sempurna. Dalam keserupaan tak ada kesempuranaan. Dalam ketaksempurnaan tak mungkin ada keagungan Tuhan. Laisa kamitslihi syaiun.
Sekali lagi, tak ada yang mungkin untuk diserupakan sepenuhnya: bila kau pintar, aku bodoh, aku bisa mengejarmu dengan belajar, berguru, atau bersekolah. Bila kau Katolik aku Islam, aku bisa mempelajarinya di manasaja untuk memiliki pemahaman yang serupa pemahamanmu. Bila kau S1 aku SMA, aku akan kuliah untuk jadi sama sepertimu. Tapi bila kau Ambon, aku Sunda, tak ada satupun sekolah yang bisa kumasuki untuk mengubahnya, bukan? Segalanya tak mungkin diserupakan sepenuhnya. Begitu memang.
Perbedaan adalah rahmat Tuhan. Perbedaan adalah wajah kesempurnaannya. Sesungguhnya aku menciptakan kalian dari golongan laki-laki dan perempuan, dan menjadikanmu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, agar [kelak] kamu saling mengenal. Maka, perbedaan adalah modal, untuk saling mengenal. Sebab bila segalanya sudah sama dan serupa, kata perkenalan tentu tak akan bermakna apa-apa.
Maka, bila seseorang memaksamu untuk menjadi sama sepertiku, dengan mengatasnamakan agama dan Tuhanku, mari kukatakan kepadamu ia sama sekali bukan seruhanku. Sama sekali bukan bagian drai diriku. Bila seseorang memaksamu, memukulmu, menodongkan popor senjata di kepalamu, katakanlah kepadanya salam, haleluya, om shanti shanti om, shalom... bukankah semua itu memiliki makana yang sama meski diucapkan dalam lidah yang berbeda?
Maka bila kita berbeda dalam banyak hal, mungkinkah perbedaan kita hanyalah perbedaan artifisial yang sesungguhnya tak berarti apa-apa. Sebab kita tak pernah tahu, barangkali, jauh sekali dalam diri kita, kita memiliki keserupaan terdalam yang paling bermakna dihadapan Tuhan.
Bila bukan kemanusiaan kita, mungkin kemakhluktuhanan kita.
Selamat merayakan kemerdekaan. Selamat merayakan perbedaan.
Keberagama[a]n
Sabtu, 16 Agustus 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
Covernya bagus bagus...
Posting Komentar